Isi form dibawah untuk mendapatkan brosur Program Kelas Karyawan UMB S1 dan S2:
Nama Anda Email

Sabtu, 13 Desember 2008

Universitas Terbuka UT Siap Jadi PJJ Unggulan di Asia 2010

Tahun 2008 ini merupakan tonggak penting karena bertepatan dengan tiga windu usia Universitas Terbuka (UT), yaitu usia yang cukup matang untuk menjadi perguruan tinggi jarak jauh unggulan di tingkat Asia pada tahun 2010 dan dunia pada tahun 2020.

Hal itu dikatakan oleh Rektor UT, Prof Dr M. Atwi Suparman MSc disela-sela acara wisuda periode II/2008 bagi 25.762 sarjana S1 dan Diploma dari empat fakultas, yaitu Fekon, Fisip, FMIPA dan FKIP, serta 199 orang lulusan Aka Mengajar, dan 8 orang Program Pascasarjana di kampus UT Pondok Cabe, Tangerang, Selasa (27/5).

Untuk mencapai tonggak penting tersebut pihaknya terus-menerus memperbaiki kualitas akademik dan manajemen internal. Atwi mengatakan proses pendidikan yang berkualitas merupakan bagian penting dari komitmen UT dalam menjalankan perannya di dunia pendidikan tinggi.

"Melalui tiga fokus pengembangan UT, yaitu peningkatan kualitas akdemik, pengembangan manajemen internal, dan peningkatan angka partisipasi mahasiswa. Perbaikan mutu akademik dan manajemen internal yang selama ini dilaksanakan, telah dapat memberikan dampak yang signifikan dalam peningkatan angka partisipasi mahasiswa,” kata Atwi.

Serangkaian upaya telah dilakukan UT seperti peningkatan kualitas jaminan, peningkatan kualitas SDM, penataan organisasi, manajemen keuangan, dan peningkatan kualitas fasilitas kerja. “Dalam hal peningkatan kualitas layanan, penjaminan mutu menjadi agenda utama keseluruhan operasional UT”, kata Atwi.

Belajar Berbasis ICT

Rektor juga menjelaskan bahwa untuk menghasilkan lulusan yang mempunyai jiwa wirausaha dan memiliki keunggulan daya saing, UT sebagai institusi perguruan tinggi pendidikan jarak jauh dapat berperan penting di dalamnya.

Untuk itu UT telah mengembangkan langkah-langkah strategis seperti peningkatan kualitas proses belajar, peningkatan kompetensi lulusan melalui kurikulum yang terintegrasi, dan pengembangan program yang dibutuhkan masyarakat.

“Sementara peningkatan proses belajar berbasis ICT akan terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan belajar mandiri dalam hal penyediaan materi pembelajaran, pemberian bantuan belajar, pelaksanaan ujian, dan pengelolaan administrasi akademik,” katanya.

Penggunaan ICT dapat lebih mendorong penyelenggaraan pendidikan oleh UT menjadi lebih transparan, akuntabel, responsive, dan dinamis sesuai dengan dinamika masyarakat. “Pemanfaatan ICT untuk pembelajaran merupakan revolusi dalam pembelajaran,” kata Atwi.

Visi Indonesia Emas 2050

Menurut Rektor, untuk meningkatkan kompentensi lulusan yang mampu pengolah SDA dan SDM serta berdaya saing internasional, UT juga mengembangkan program-program pendidikan mulai Diploma, Strata S1, Strata S 2. “Ke depan UT akan meningkatkan perannya dengan mengembangkan program yang Strata S 3 dan pendidikan berkelanjutan,” katanya.

Hal ini sejalan dengan Visi Pendidikan Indonesia 2025 dan Visi Indonesia Emas 2050 yang menekankan penggabungan antara 'kearifan lokal', yaitu keunikan SDA daerah dengan peningkatan kapabilitas SDM daerah tersebut.

“UT dapat mengambil peran yang besar dalam upaya pencapaian Visi Pendidikan Indonesia 2025 dan Visi Indonesia Emas 2050 mengingat cakupan layanan UT di seluruh wilayah Indonesia,” paparnya.

Dengan menyelenggarakan sistem jaminan kulitas, hingga tahun 2008 ini telah diperoleh sertifikat dan penghargaan. Sertifikat yang pertama kali diperoleh UT berasal dari International Council For Open and Distance Education (ICDE).

Selanjutnya, secara berturut-turt UT telah memperoleh sertifikat ISO untuk bidang Layanan Bahan Ajar. Pengembangan Bahan Ajar dan Bahan Ujian, Layanan Administrasi Akademik dan Manajemen UPBJJ (Unit Program Belajar Jarak Jauh) UT untuk 11 UPBJJ-UT.

Target ISO di 14 UPBJJ-UT

Pada tahun 2008 ini ditargetkan akan ada 14 UPBJJ-UT telah mendapat sertifikat ISO. “Di samping itu akan diupayakan perolehan sertifikat bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OHSA), serta bidang promosi dan kerjasama,” katanya.

Dengan diperolehnya berbagai penghargaan bertaraf internasional tersebut, pemerintah Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional, pada 4 Februari 2008 menganugerahkan penghargaan Anugrah Anindyaguna kepada UT.

Rektor juga menyampaikan bahwa UT mempunyai komitmen, antara lain dalam peningkatan kualitas SDM, dan kedua menyempurnaan dalam pengelolaan keuangan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Good and Corporate Governance. "Untuk mencapai target UT memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)," katanya.

Ketiga, penerapan lingkungan pembelajaran yang lebih berkualitas dalam penataan fasilitas, dengan menyempurnakan berbagai fasilitas kerja yang memadai dan dikelola secara professional dan keempat, peningkatan pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi.

Menurut Atwi, proses perubahan di UT dapat berjalan dengan baik dan terkendali, sehingga membuahkan hasil yang membanggakan. Berbagai prestasi yang telah dicapai UT baik di tingkat nasional maupun internasional, telah mengantarkan UT menjadi salah satu dari 7 perguruan tinggi yang masuk dalam World Class Universities di Indonesia, di samping UI, UGM, ITB, IPB, Undip, dan Unair.

Rektor menambahkan, untuk meningkatkan kompentensi lulusan yang mampu pengolah SDA dan SDM serta berdaya saing internasional, UT juga mengembangkan program-program pendidikan mulai Diploma, Strata S1, Strata S 2. “Ke depan UT akan meningkatkan perannya dengan mengembangkan program yang Strata S 3 dan pendidikan berkelanjutan,” katanya. ***(rht)




3 comments:

mahasiswa mengatakan...

Sebagai Mahasiswa Mercu Buana, jangan percaya dahulu dengan omong besar dari seorang Rektor di Universitas Terbuka yang ada "indikasi" banyak melakukan "korupsi" pembangunan proyek dengan dana APBN, mulai dari membeli tanah, pembangunan gedung, percetakan buku bahan ajar, pembayaran untuk pembelajaran jarak jauh dengan satelit yang tidak pernah ditonton mahasiswa, sistem ICT yang tidak lebih dari 1.000 mahasiswa mampu melakukan akses internet. Padahal UT sebagai perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Mendiknas untuk menjalankan program sertifikasi PGSD-PGTK dengan Dana Bantuan Pemda dan dari APBN.
Ikuti saja tulisan mahasiswa yang banyak keluhan tetapi tidak mendapat tanggapan dari pejabat apalagi yang namanya dosen.
Dosen di UT tidak pernah berhubungan dengan mahasiswanya, tetapi banyak menggunakan dana APBN untuk "alasan" meningkatkan mutu dan kompetensi seorang dosen.
Silahkan registrasi di UT, dengan biaya Rp.75.000,- tidak harus mengikuti perkuliahan seperti halnya di perguruan reguler pada umumnya. Cukup mengirim Tugas Mandiri yang bisa dikerjakan dari rumah. Setiap semester mengikuti ujian, apa hasilnya?
Tidak ada nilai yang memenuhi kwalitas, kalaupun ada yang mendapatkan nilai A atau B, adalah usaha dari Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh di setiap kota, "menutup mata" kepada para "joki". Untuk diluar pulau jawa, para mahasiswa bisa "open book", dikarenakan ada teknologi e-book store, yaitu suatu pembelian buku secara on-line tetapi tidak bisa secepat membeli buku di toko buku, satu dua baru tiba sampai dirumah atau sebelum Ujian Akhir Semester.

Kawan-kawan harus bersatu dan bergandeng tangan untuk melakukan demo kepada Mendiknas atau Dirjen Dikti, agar bisa memperjuangkan Universitas Mercu Buana juga melakukan Pendidikan Jarak Jauh.
Sebab Universitas Terbuka bukan satu-satunya Perguruan Tinggi yang terbaik dalam menyelenggarakan PJJ PT di Indonesia.
Sampaikan tentang "indikasi korupsi" rektor UT, adanya TAHADEP bagi Karyawan UT yang diberikan melalui Bank BRI, tanpa persetujuan Karyawan bisa ditutup dan dibuka kembali ke Bank BTN. Dimana uang yang terdapat di 700 karyawan ada selisih 1 juta dan 2 juta setiap kali di cek oleh karyawan untuk menghindari PPATK atau KPK atau BPKP yang melakukan pemeriksaan keuangan di UT Pondok Cabe Tangerang.
Karena uang-uang yang sudah terisi dalam rekening TAHADEP Karyawan, tidak diperkenankan untuk diambil oleh setiap Karyawan. Dimana melalui Staf dan Purek II dengan Persetujuan Rektor UT, ada larangan berupa Surat Keputusan Rektor terhadap keuangan yang dibagi-bagi dalam setiap rekening karyawan sesungguhnya bukan milik karyawan dan "dilarang keras" untuk diambil.
Barang siapa yang mengambil akan di BAP, dan dapat dilaporkan kepada Polisi, telah mengambil uang yang bukan haknya.
Bagi setiap karyawan yang telah mengambil uang, wajib mengembalikan dan tidak melakukan tuntutan kepada Rektor, akan mendapatkan "Bonus Tutup Mulut".
Sehingga setiap karyawan yang telah mengambil uang, akan di BAP, membuat pernyataan, selanjutnya akan diberikan "bonus tutup mulut".

Apakah ini yang dibanggakan dari Universitas Terbuka?

Jangan rendah diri dan takut tidak mendapatkan penghargaan dikehidupan sosial masyarakat.

Perjuangkan tidak berhenti bagi Mercu Buana, karena istilah "keunikan daerah" yang diperjuangkan Rektor UT adalah omong besar yang tidak pernah direalisasikan.

Kesulitan mendapatkan buku, tidak ada tutorial, membagi 'korupsi' dengan pejabat di daerah, baik dari Pejabat Pemda yang memberikan Bantuan Pendidikan melalui Program Otonomi Daerah dan para "preman" pendidikan dengan berkedok "kelompok belajar" untuk menagih uang perbantuan registrasi, pembelian buku, bantuan tutorial dll.

mahasiswa mengatakan...

Sebagai Mahasiswa Mercu Buana, jangan percaya dahulu dengan omong besar dari seorang Rektor di Universitas Terbuka yang ada "indikasi" banyak melakukan "korupsi" pembangunan proyek dengan dana APBN, mulai dari membeli tanah, pembangunan gedung, percetakan buku bahan ajar, pembayaran untuk pembelajaran jarak jauh dengan satelit yang tidak pernah ditonton mahasiswa, sistem ICT yang tidak lebih dari 1.000 mahasiswa mampu melakukan akses internet. Padahal UT sebagai perguruan tinggi yang ditunjuk oleh Mendiknas untuk menjalankan program sertifikasi PGSD-PGTK dengan Dana Bantuan Pemda dan dari APBN.
Ikuti saja tulisan mahasiswa yang banyak keluhan tetapi tidak mendapat tanggapan dari pejabat apalagi yang namanya dosen.
Dosen di UT tidak pernah berhubungan dengan mahasiswanya, tetapi banyak menggunakan dana APBN untuk "alasan" meningkatkan mutu dan kompetensi seorang dosen.
Silahkan registrasi di UT, dengan biaya Rp.75.000,- tidak harus mengikuti perkuliahan seperti halnya di perguruan reguler pada umumnya. Cukup mengirim Tugas Mandiri yang bisa dikerjakan dari rumah. Setiap semester mengikuti ujian, apa hasilnya?
Tidak ada nilai yang memenuhi kwalitas, kalaupun ada yang mendapatkan nilai A atau B, adalah usaha dari Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh di setiap kota, "menutup mata" kepada para "joki". Untuk diluar pulau jawa, para mahasiswa bisa "open book", dikarenakan ada teknologi e-book store, yaitu suatu pembelian buku secara on-line tetapi tidak bisa secepat membeli buku di toko buku, satu dua baru tiba sampai dirumah atau sebelum Ujian Akhir Semester.

Kawan-kawan harus bersatu dan bergandeng tangan untuk melakukan demo kepada Mendiknas atau Dirjen Dikti, agar bisa memperjuangkan Universitas Mercu Buana juga melakukan Pendidikan Jarak Jauh.
Sebab Universitas Terbuka bukan satu-satunya Perguruan Tinggi yang terbaik dalam menyelenggarakan PJJ PT di Indonesia.
Sampaikan tentang "indikasi korupsi" rektor UT, adanya TAHADEP bagi Karyawan UT yang diberikan melalui Bank BRI, tanpa persetujuan Karyawan bisa ditutup dan dibuka kembali ke Bank BTN. Dimana uang yang terdapat di 700 karyawan ada selisih 1 juta dan 2 juta setiap kali di cek oleh karyawan untuk menghindari PPATK atau KPK atau BPKP yang melakukan pemeriksaan keuangan di UT Pondok Cabe Tangerang.
Karena uang-uang yang sudah terisi dalam rekening TAHADEP Karyawan, tidak diperkenankan untuk diambil oleh setiap Karyawan. Dimana melalui Staf dan Purek II dengan Persetujuan Rektor UT, ada larangan berupa Surat Keputusan Rektor terhadap keuangan yang dibagi-bagi dalam setiap rekening karyawan sesungguhnya bukan milik karyawan dan "dilarang keras" untuk diambil.
Barang siapa yang mengambil akan di BAP, dan dapat dilaporkan kepada Polisi, telah mengambil uang yang bukan haknya.
Bagi setiap karyawan yang telah mengambil uang, wajib mengembalikan dan tidak melakukan tuntutan kepada Rektor, akan mendapatkan "Bonus Tutup Mulut".
Sehingga setiap karyawan yang telah mengambil uang, akan di BAP, membuat pernyataan, selanjutnya akan diberikan "bonus tutup mulut".

Apakah ini yang dibanggakan dari Universitas Terbuka?

Jangan rendah diri dan takut tidak mendapatkan penghargaan dikehidupan sosial masyarakat.

Perjuangkan tidak berhenti bagi Mercu Buana, karena istilah "keunikan daerah" yang diperjuangkan Rektor UT adalah omong besar yang tidak pernah direalisasikan.

Kesulitan mendapatkan buku, tidak ada tutorial, membagi 'korupsi' dengan pejabat di daerah, baik dari Pejabat Pemda yang memberikan Bantuan Pendidikan melalui Program Otonomi Daerah dan para "preman" pendidikan dengan berkedok "kelompok belajar" untuk menagih uang perbantuan registrasi, pembelian buku, bantuan tutorial dll.

moch fadhil mengatakan...

Pembahasan Tentang Procedure Text
Metode dan Ciri Ilmu Sosiologi
Pembahasan Tentang Galaksi
Pembahasan Tentang Korupsi
Pedaran Ngeunaan Carita Babad

Poskan Komentar

 
Great HTML Templates from easytemplates.com. | manhattan lasik | websites for accountants